Jumat, 03 Januari 2014
KATA
Kata-kata
tertulis selalu bisa dipahami secara berbeda-beda oleh pembacanya.
Ketika ia terlempar ke ruang publik, maka ia jadi milik pembaca.
Pemahaman pembaca akan selalu terpengaruh oleh ruang dan waktu ia
berdiri. Keinginan untuk memahami maksudnya secara lebih baik dan
mungkin tepat, seyogyanya ditanyakan kepada penulisnya.
ABBAS AL-MURSI
Abu
al-Abbas al-Mursi, sufi besar dari Iskandariah, Mesir, memberikan sikap
yang berbeda kepada tamu yang datang. Kepada tamu yang tampak saleh, ia
menyambutnya dingin saja. Sementara kepada tamu yang tampak jahat, ia
menyambutnya dengan hangat. Ia melihat tamu yang pertama sering
membanggakan kesalehannya. Sedang ia melihat tamu yang kedua datang
dengan rendah hati dan merasa banyak dosa
Rabu, 01 Januari 2014
SELAMAT TAHUN BARU 2014
SELAMAT
TAHUN BARU
Ribuan hari
telah berlalu, ribuan hari akan datang.
Seluruhnya
adalah waktu.
Jangan
tenggelam dalam bayang-bayang.
Jangan
sesali hari yang pergi.
“Sesungguhnya
pada zaman yang pergi ada “ibrah”
bagi
orang-orang yang berpikir”.
Teruslah
melangkah.
Jangan
sia-siakan zaman yang datang menjemput
Jangan
cacimaki dia
Karena
kata Dia : “Aku adalah Zaman”
Teruslah
mencipta. Tebarkan cintamu.
Dalam
segala situasi semengerikan apapun,
Janganlah
kehilangan harapan,
sepanjang
matahari masih bersinar, menerangi jalan.
Semoga
Tuhan memberkati kita semua
Selamat
Tahun Baru 2014.
DOA UNTUK GUS DUR
DO’A UNTUK GUS DUR: SANG ZAHID
Dalam
setiap Haul (ulang tahun kematian) Gus Dur, ribuan orang pengagumnya
hadir. Ia diselenggarakan tidak hanya di
Ciganjur, rumah Gus Dur, dan di Tebuireng,
Jombang, tempat Gus Dur dimakamkan, melainkan juga di berbagai tempat di tanah
air. Mereka yang hadir tidak hanya dari kalangan muslim, tetapi juga dari
berbagai agama dan kepercayaan. Beberapa di antaranya adalah Katholik,
Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu, Bahai, Sunda Wiwitan, Kuningan
Cirebon, dan Ahmadiyah. Para tokoh agama-agama itu hadir di sana untuk
menyampaikan do’a bagi Gus Dur. Dan saya merasa terhormat ketika diminta
Panitia membacakan do’a mewakili Islam,
pada haul beliau di Ciganjur, dua tahun lalu.
Inilah do’a yang saya bacakan:
Segala dan seluruh Pujian hanya bagi Tuhan Pencipta dan
Pemilik semesta. Keselamatan dan kedamaian semoga dilimpahkan kepada
kekasih-Nya: Muhammad bin Abd Allah, kepada para sahabat dan para
pengikutnya.
Wahai Tuhan Alam
semesta
Wahai
Tuhan semua manusia
Hari ini, 4 tahun yang pergi
Hamba-Mu yang
Mencintai-Mu
dan yang kami
cintai
Abdurrahman Wahid
Telah pulang,
kembali kepada-Mu
Memenuhi
panggilan-Mu
Kami,
hamba-hamba-Mu yang hadir di sini
Memohon
kepada-Mu,
Ampuni, maafkan
dan sayangi dia
Tempatkan dia di
atas Pangkuan-Mu,
Dan dalam Rengkuhan Kasih dan Cinta-Mu
Bagi kami, dia, Abdurrahman Wahid
Adalah
hamba-Mu yang tulus memenuhi
Seruan
dan ajakan-Mu
Dialah yang selalu meminta kepada-Mu
Sepanjang
hari, sepanjang malam dan pada setiap desah nafas
Agar kami tak
lagi bertengkar hanya karena pikiran kami beda
Agar kami
bersaudara dan
menjalin kasih
Biarpun baju kami beda
Agar kami
membangun negeri ini bersama-sama,
Meski dengan seluruh kebiasaan kami yang
beda-beda
Agar negeri ini selalu utuh, damai,
Negeri
yang diliputi keadilan dan kesejahteraan
lahir dan batin
Wahai Tuhan
Yang tak ada
tuhan selain Engkau
Meski dia telah
tak lagi bersama kami
Dia selalu ada di
dekat kami
Dan kami selalu
ingin bersamanya
Melanjutkan
mimpi-mimpinya yang indah
Bagi bangsa dan
negeri kami
Yang kami cintai
Wahai Tuhan,
Engkaulah
Pencipta kami semua
Pencipta alam
semesta
Dalam keragaman yang indah
Yang begitu elok
Kami semua
hamba-Mu,
Kami berasal
dari-Mu
dan akan kembali
kepada-Mu jua
Ampuni kami jika
kami salah
dan tak sopan
kepada-Mu
MAKAM GUS DUR
KETIKA
AKU ZIARAH KE GUS DUR
Di atas tanah yang sedikit menonjol itu tampak bunga warna-warni yang masih segar dan menebarkan aroma harum yang sangat khas. Nisan di atas kuburan itu begitu bersahaja dan tanah lempung itu tampak seperti masih basah, seperti ketika tubuh penghuninya baru saja diletakkkan kemarin. Setiap peziarah selalu membawa bunga-bunga itu dan menaburkannya di atas tanah tersebut. Seorang peziarah dengan penuh kekaguman mengatakan: "Saya sudah ziarah ke makam Bung Karno, Pak Harto dan Gus Dur. Tapi makam Gus Dur inilah yang paling sederhana. Padahal almarhum juga seorang presiden, seperti keduanya." Aku bilang: “Jika jasad di dalam kuburan ini hanya ditimbun dengan tanah merah, tanpa bungkusan semen dan tanpa orname apapun, maka itu adalah pesan Gus Dur, ketika ia masih ada, masih sehat. Begitulah yang sempat aku dengar pada suatu hari mengaji di rumahnya. Ia bersahaja, ketika ada dan ketika tiada. Bukan kemegahan bangunan kuburan dan bukan pula lukisan ornament-ornamen bertahtakan emas di atasnya yang membuatnya jadi tempat yang menarik beribu dan berjuta orang untuk datang memberikan penghormatan dan mendoakannya, melainkan ruh dan jiwa yang putih, yang seluruh hidupnya dipersembahkan bagi manusia. Ya, manusia siapapun jua, tanpa membeda-bedakan manusia satu atas manusia yang lain.”
Di atas pusara presiden RI ke IV itu aku menaburkan bunga, lalu bersimpuh di hadapannya membaca surah Yasin, Tahlil dan berdo’a untuk beliau. Di belakang kami, terdapat beberapa rombongan lain yang juga melakukan hal yang sama. Suara kalimat-kalimat suci al-Qur’an dan “La Ilaha Illa Allah” yang diulang berkali-kali (umumnya 100 kali) menciptakan suasana gemuruh bagai genderang dalam simphoni Requim karya Mozart. Sebagian mata peziarah mengembang butir-butir air yang lalu menetes pelan-pelan ke pipi mereka. Ada juga yang memanggil-manggil nama Gus Dur dengan sedikit keras dan berulang-ulang. Ada yang ketika usai tahlil, ingin mengambil tanah kuburan itu, tetapi segera dilarang penjaga yang selalu setia berdiri di sana.
Usai ziarah, aku pamit dan izin kepada Ibu Shinta, untuk memisahkan diri dari rombongan keluarga itu, dan membiarkan mereka singgah istirahat di rumah adiknya :Gus Sholah. Aku segera mengambil jalan yang dilalui masyarakat peziarah. Suasana jalanan dipenuhi warung-warung dan toko-toko yang menjual bang-barang khas di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati atau makam Wali Sanga yang lain : Mushaf al-Qur’an, kumpulan do’a-doa dan Tahlil, surah Yasin, buku-buku Manaqib, kaset-kaset, CD-VCD, tasbih, “Tob” (pakaian Arab), Jubah, Jilbab, sabuk, peci dengan berbagai corak dan modelnya, sajadah, bunga-bunga; mawar, melati, kenanga dan kemboja, minyak wangi dengan aroma khas parfum Arab, dan lain-lain, serta tak lupa kemenyan dan sejenisnya. Jalanan itu menjadi begitu sempit. Di bagian lain dari jalan itu banyak sekali warung makanan dan minuman. “Gus Dur, masih membagi rizki dan kebahagiaan kepada masyarakat, meski dia telah wafat”, kata saya dalam hati. Para wali adalah tokoh-tokoh yang “hadir dalam ketidakhadiran”; mereka bukan hanya sebagai sosok-sosok historis, melainkan sosok yang dirasakan masih hidup dan masih aktif di dunia fana ini. Rohnya masih bersama orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Logika memang sering tak paham soal-soal seperti ini. Para penganut pemahaman agama yang literalis juga pasti akan bersungut-sungut, berteriak-teriak menyumpahserapahi khalayak peziarah itu.
Di atas tanah yang sedikit menonjol itu tampak bunga warna-warni yang masih segar dan menebarkan aroma harum yang sangat khas. Nisan di atas kuburan itu begitu bersahaja dan tanah lempung itu tampak seperti masih basah, seperti ketika tubuh penghuninya baru saja diletakkkan kemarin. Setiap peziarah selalu membawa bunga-bunga itu dan menaburkannya di atas tanah tersebut. Seorang peziarah dengan penuh kekaguman mengatakan: "Saya sudah ziarah ke makam Bung Karno, Pak Harto dan Gus Dur. Tapi makam Gus Dur inilah yang paling sederhana. Padahal almarhum juga seorang presiden, seperti keduanya." Aku bilang: “Jika jasad di dalam kuburan ini hanya ditimbun dengan tanah merah, tanpa bungkusan semen dan tanpa orname apapun, maka itu adalah pesan Gus Dur, ketika ia masih ada, masih sehat. Begitulah yang sempat aku dengar pada suatu hari mengaji di rumahnya. Ia bersahaja, ketika ada dan ketika tiada. Bukan kemegahan bangunan kuburan dan bukan pula lukisan ornament-ornamen bertahtakan emas di atasnya yang membuatnya jadi tempat yang menarik beribu dan berjuta orang untuk datang memberikan penghormatan dan mendoakannya, melainkan ruh dan jiwa yang putih, yang seluruh hidupnya dipersembahkan bagi manusia. Ya, manusia siapapun jua, tanpa membeda-bedakan manusia satu atas manusia yang lain.”
Di atas pusara presiden RI ke IV itu aku menaburkan bunga, lalu bersimpuh di hadapannya membaca surah Yasin, Tahlil dan berdo’a untuk beliau. Di belakang kami, terdapat beberapa rombongan lain yang juga melakukan hal yang sama. Suara kalimat-kalimat suci al-Qur’an dan “La Ilaha Illa Allah” yang diulang berkali-kali (umumnya 100 kali) menciptakan suasana gemuruh bagai genderang dalam simphoni Requim karya Mozart. Sebagian mata peziarah mengembang butir-butir air yang lalu menetes pelan-pelan ke pipi mereka. Ada juga yang memanggil-manggil nama Gus Dur dengan sedikit keras dan berulang-ulang. Ada yang ketika usai tahlil, ingin mengambil tanah kuburan itu, tetapi segera dilarang penjaga yang selalu setia berdiri di sana.
Usai ziarah, aku pamit dan izin kepada Ibu Shinta, untuk memisahkan diri dari rombongan keluarga itu, dan membiarkan mereka singgah istirahat di rumah adiknya :Gus Sholah. Aku segera mengambil jalan yang dilalui masyarakat peziarah. Suasana jalanan dipenuhi warung-warung dan toko-toko yang menjual bang-barang khas di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati atau makam Wali Sanga yang lain : Mushaf al-Qur’an, kumpulan do’a-doa dan Tahlil, surah Yasin, buku-buku Manaqib, kaset-kaset, CD-VCD, tasbih, “Tob” (pakaian Arab), Jubah, Jilbab, sabuk, peci dengan berbagai corak dan modelnya, sajadah, bunga-bunga; mawar, melati, kenanga dan kemboja, minyak wangi dengan aroma khas parfum Arab, dan lain-lain, serta tak lupa kemenyan dan sejenisnya. Jalanan itu menjadi begitu sempit. Di bagian lain dari jalan itu banyak sekali warung makanan dan minuman. “Gus Dur, masih membagi rizki dan kebahagiaan kepada masyarakat, meski dia telah wafat”, kata saya dalam hati. Para wali adalah tokoh-tokoh yang “hadir dalam ketidakhadiran”; mereka bukan hanya sebagai sosok-sosok historis, melainkan sosok yang dirasakan masih hidup dan masih aktif di dunia fana ini. Rohnya masih bersama orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Logika memang sering tak paham soal-soal seperti ini. Para penganut pemahaman agama yang literalis juga pasti akan bersungut-sungut, berteriak-teriak menyumpahserapahi khalayak peziarah itu.
Senin, 30 Desember 2013
GUS DUR BUKAN INI BUKAN ITU
GUS DUR BUKAN INI BUKAN ITU
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata reflektif yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis sejati”, bukan “Bapak Demokrasi”, bukan “Negarawan Paripurna”, bukan “Waliyullah” dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup kencang, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan keterlaluan”, kata hati mereka, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, kata Marzuki Wahid menuntaskan bicaranya. Dan suasana spontan berubah gemuruh, menghentikan jantung yang berdegup, meredakan emosi yang tertahan, lalu menciptakan suasana yang mengharu-biru, mengalirkan kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan.
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata reflektif yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis sejati”, bukan “Bapak Demokrasi”, bukan “Negarawan Paripurna”, bukan “Waliyullah” dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup kencang, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan keterlaluan”, kata hati mereka, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, kata Marzuki Wahid menuntaskan bicaranya. Dan suasana spontan berubah gemuruh, menghentikan jantung yang berdegup, meredakan emosi yang tertahan, lalu menciptakan suasana yang mengharu-biru, mengalirkan kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan.
KATA-KATA
Kata-kata tidaklah mengatakan (memaknai) sendiri,
aspek situasi psikologi dan pengetahuan pembacanya lah yang memaknainya.
Imam al-Syafi’i mengatakan :
Tatapan bola mata yang mencinta
selalu buta akan buruk rupa wajah si dia
Tetapi sorot mata yang membenci
Melihat si dia buruk rupa saja adanya
(Diwan a-Syafi’i)
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ ولكَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِى المسَاوِىَا
aspek situasi psikologi dan pengetahuan pembacanya lah yang memaknainya.
Imam al-Syafi’i mengatakan :
Tatapan bola mata yang mencinta
selalu buta akan buruk rupa wajah si dia
Tetapi sorot mata yang membenci
Melihat si dia buruk rupa saja adanya
(Diwan a-Syafi’i)
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ ولكَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِى المسَاوِىَا
Langganan:
Postingan (Atom)