Rabu, 28 Agustus 2013

MENGIKUTI ADALAH MEMAHAMI MAKSUD



MENGIKUTI ADALAH MEMAHAMI MAKSUDNYA

Seluruh kaum muslimin di manapun dan kapanpun meyakini dengan sesungguh hati bahwa Sunah Nabi Muhammad adalah sumber utama kedua, sesudah al-Qur’an, bagi segala pikiran dan tindakan dalam kehidupan mereka. Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang memerintahkan kaum beriman untuk mentaati Rasul-Nya. Dalam salah satu ayat al-Qur’an dinyatakan bahwa mentaati Rasul Allah adalah sama dengan mentaati Allah. :
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa mentaati Rasul, maka dia, sungguh, juga, mentaati Allah Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga  mereka.(Q.S. al-Nisa,[4]:80)
Nabi juga menyatakan :
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ
“Barangsiapa mentaatiku, maka dia sungguh telah mentaati Allah. Siapa yang mencintaiku, maka Allah mencintainya”.
Hal ini karena Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang ditugaskan untuk menjelaskan apa yang diwahyukan Allah. Al-Qur’an menyatakan :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan”. (Q.S. al-Nahl, [16]:44).
Akan tetapi bagaimanakah cara kita mengikuti Nabi ?. Imam al-Ghazali, menjelaskan dengan indah persoalan ini, sesuai dengan petunjuk ayat di atas.

إِذَا قَلَّدَ صَاحِبَ الشَّرْعِ فِى تَلَقِّى أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ بِالْقَبُولِ فَيَنْبَغِى أَنْ يَكُوْنَ حَرِيْصاً عَلَى فَهْمِ أَسْرَارِهِ . فَإِنَّ الْمُقَلِّدَ اِنَّمَا يَفْعَلُ الْفِعْلَ لِاَنَّ صَاحِبَ الشَّرعِ فَعَلَهُ وَفِعْلُهُ لَا بُدَّ وَاَنْ يَكُونَ لِسِرٍّ فِيْهِ فَيَنْبَغِى أَنْ يَكُوْنَ شَدِيْدَ الْبَحْثِ عَنْ أَسْرَارِ الْاَعْمَالِ وَالْاَقْوَالِ . فَإِنَّهُ إِنِ اكْتَفَى بِحِفْظِ مَا يُقَالُ كَانَ وِعَاءً لِلْعِلْمِ وَلَا يَكُونُ عَالِماً. وَلِذَلِكَ يُقَالُ : فُلَانٌ مِنْ أَوْعِيَةِ الْعِلْمِ. فلَا يُسَمَّى عَالِمًا مَنْ كَانَ شَأْنُهُ الْحِفْظ مِنْ غَيْرِ اِطِّلَاعٍ عَلَى الْحِكَمِ وَاْلأَسْرَارِ
 (إحياء علوم الدين 1 ص 78.)

“Jika seseorang menyatakan diri mengikuti Nabi, baik dalam ucapan maupun tindakannya, maka seyogyanya dia mempunyai keinginan kuat untuk memahami rahasia (maksud yang terkandung) di dalamnya. Dia tentu melakukan hal itu karena Nabi melakukannya. Dan beliau melakukan tindakan itu tentu karena ada maksudnya. Maka seyogyanya dia (pengikut) berusaha dengan sungguh-sungguh mengkaji kandungan-kandungan (maksud-maksud) dari apa yang diucapkan dan dikerjakan beliau. Bila dia hanya menghafalnya, maka dia hanyalah wadah dari pengetahuan dan bukan seorang yang mengerti (alim/ulama). Orang Arab mengatakan : “Fulan min Au’iyah al-Ilm” (Si Fulan adalah wadah ilmu). Maka seseorang tidak disebut Alim, jika pekerjaannya hanya menghafal, tanpa memahmi makna-makna terdalam dan rahasia-rahasianya. (Imam al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, I/78).ji


Kamis, 22 Agustus 2013

PADA AWALNYA ADALAH ASING



Dengarkanlah apa kata Nabi yang agung, Muhammad putra Abd Allah, Saw, tentang kehadiran Islam :
بَدَأَ الْاِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبآءِ

 Pada awalnya Islam hadir bagai orang asing. Dan ia akan kembali jadi asing, seperti pada awalnya. Maka berbahagialah wahai orang-orang asing”.

Imam Muslim mencatat hadits ini dalam buku Sahihnya. Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya dan sejumlah ahli hadits menyebutkan kesahihan (validitas) hadits ini. Para komentator hadits ini mengatakan: “Islam ketika ia hadir pertama kali di Makkah, adalah narasi atau wacana yang asing. Hal keasingan agama ini karena Nabi Muhammad mendeklarasikan Ke-Esa-an Tuhan. “La Ilaha Illa Allah” (tidak ada yang dikultuskan selain Allah). Wacana ini menjadi titik tolak bagi pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan manusia atas manusia, penentangan terhadap monopoli ekonomi yang eksploitatif. Kata-kata itu  juga sekaligus mencanangkan kesetaraan manusia dan penegakan keadilan. Gagasan ini ingin menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan manusia atas manusia. Karena itu tak boleh ada penindasan manusia  atas manusia.

Gagasan tersebut pada awalnya hanya diminati oleh segelintir orang saja. Nabi Muhammad yang membawakannya dicacimaki, disumpahserapah dan distigma masyarakatnya sendiri sebagai orang gila (majnun), tukang sihir (sahir) dan pendongeng mitologi-mitologi kuno (asathir al-awwalin) yang amat lihai. Nabi dituduh mereka sebagai laki-laki yang sesat dan menyesatkan. Ia diasingkan, dikucilkan, dibenci lalu mereka mengusir dan berusaha membunuhnya. Nabi yang mulia bersama pengikutnya yang sedikit, itu kemudian pindah ke Madinah. Di tempat yang baru itu, Nabi memperoleh pertolongan penduduknya, yang mayoritas penganut agama Yahudi dan Nasrani. Mereka telah bermukim lama di Yatsrib, nama awal kota Madinah. Dinasti Quraisy di Makkah yang merasa legitimasinya terancam oleh kehadiran, tetap tak ingin membiarkan dia hidup. Mereka tahu bahwa Muhammad (Saw) adalah penakluk pikiran yang ulung. Kata-katanya yang berupa ajakan kepada jalan hidup baru yang menjanjikan keselamatan amatlah indah dan memukau pendengarnya. Jika dibiarkan saja, dia bisa membangun kekuatan besar di Madinah dan bisa mengancam. Maka meski Nabi telah meninggalkan tempat kelahirannya, dia dan para pengikutnya masih tetap saja harus menghadapi berbagai tekanan dan ancaman dari luar kotanya. Yakni dari Makkah. Dia dan para pengikutnya berkali-kali harus terlibat dalam perang mahadahsyat, karena mereka harus mempertahankan diri. Pertumpahan darah sama sekali tak dikehendaki Nabi, namun hidup wajib dipertahankan, dan gagasan dan misi Keesaan Tuhan harus tetap hidup sepanjang zaman. Mereka yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong dan memberinya kemenangan pada saat yang dikehendaki-Nya.

Maka sang Nabi, orang asing itu, terus saja melangkah setapak demi setapak. Dengan tetap memperlihatkan kejujuran, kebersahajaan, ketulusan, ketenangan dan kesabaran yang penuh, ia memperoleh makin banyak simpati masyarakatnya. Perangai dan budi pekertinya yang luhur itu membuat masyarakat di sekitarnya satu-satu dan diam-diam jatuh cinta pada ajaran-ajaran yang dibawanya. Dan dalam tempo amat singkat, sesudah itu, ketika ia pulang kembali ke tempat kelahirannya di Makkah, situasi tak dibayangkan dan mencengangkan pun hadir. Orang-orang yang beberapa tahun sebelumnya mengucilkan, membenci,  memusuhinya dan membunuh sahabat-sahabatnya di sana, tiba-tiba saja tersentak, situasi mental galau meliputi mereka dan terdiam seribu basa. Nabi berdiri saja sambil mengulum senyum menyaksikan pemandangan yang indah itu. Mereka, dengan mental yang jatuh, mengatakan : “Anta Akh Karim, Ibn Akh Karim, (engkau saudara yang mulia putra saudara yang mulia). Nabi Saw dengan tetap menunjukkan charismanya yang luar biasa dan berdiri menatap mereka dengan keanggunan yang penuh. Nabi mengatakan sambil mengutip kata-kata Nabi Yusuf :
لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْم .إِذْهَبُوا فَأَنْتُمْ الطُّلَقَآءُ
Hari ini, tidak ada balasdendam atas kalian. Pergilah ke mana kalian suka. Kalian orang-orang yang bebas).
Ucapan itu sungguh-sungguh menggetarkan hati mereka, dan tak lama sesudah itu secara berbondong-bondong mereka jatuh dalam pelukan Nabi, lalu mencintainya. Al-Qur’an mencatat peristiwa ini:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِى دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka Mahasucikan Dia dengan memuji-Nya. Dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.(Q.S. Al-Nashr, [101]:1-3).

Cirebon, 23082013

Rabu, 21 Agustus 2013

MENYIKAPI PERBEDAAN



Fârûq Abû Zaid dalam bukunya “Al-Syarî’ah al-Islâmiyah baina al-Muhâfizhîn wa al-Mujaddidîn” (Syari’ah Islam antara tradisionalis dan modern) mengatakan bahwa

أن مذاهب الفقه الاسلامى ليست سوى إنعكاس لتطور الحياة الاجتماعية فى العالم الاسلام

“Anna Madzâhib al-Fiqh al-Islâmy laisat siwâ in’ikas li tathawwur al-hayâh al-Ijtimâ’iyyah fî al-‘Alam al-Islâmy”. (hlm. 16).

 “mazhab-mazhab (aliran-aliran) keagamaan sejatinya adalah refleksi sosio-kultural mereka masing-masing”.

Menyikapi Perbedaan

Bagaimana para pendiri mazhab (Aimmah al-Madzahib) menyikapi pandangan orang lain yang berbeda dengan dirinya?. Sejarah mencatat bahwa adalah orang-orang yang paling toleran terhadap pandangan orang lain, paling rendah hati dan saling menghargai. Imam Abu Hanifah misalnya dengan rendah hati mengatakan : “Inilah yang terbaik yang bisa aku temukan dari eksplorasiku atas Kitab Allah dan Sunnah Nabi (Hadits). Jika ada temuan yang lebih baik, aku akan menghargainya”. Begitu juga para Imam yang lain, menyampaikan hal yang senada. Mereka selalu mengingat sabda Nabi : “Jika seseorang berijtihad (berpendapat) dan ijtihadnya (pendapatnya) benar maka ia mendapat dua pahala, dan jika salah mendapat satu pahala”. 

Perbedaan pemaknaan atas teks keagamaan atau bahkan teks-teks yang lain pada akhirnya perlu dicari jalan keluarnya melalui mekanisme yang paling baik dan sejalan dengan perintah al-Qur’ân, yakni dialog,  musyawarah’, dan cara-cara lain yang demokratis, mencari titik temu untuk kebaikan bersama, mencari kebenaran, bukan mencari-cari pembenaran diri, atau bukan dengan mengklaim pendapatnyalah yang paling benar sendiri sambil mencaci pendapat yang lain, apalagi dengan menggunakan kekerasan, termasuk membunuh karakter seseorang atau kelompok. Tak ada yang paling dirugikan dan paling disengsarakan dari perseteruan, kesombongan diri dan tindakan kekerasan ini, kecuali warga dan bangsa muslim sendiri. Sebaliknya  tak ada sikap dan cara yang paling memajukan, menyejahterakan dan membahagiakan masyarakat muslim, kecuali kebersamaan, saling menghargai dan rendah hati di antara mereka, sebagaimana diajarkan Tuhan dan Nabi serta para ulama generasi awal.

Cirebon, 22082013

JALAN TERBAIK MENUJU TUHAN



Para filsuf mengatakan bahwa kehadiran atau keberadaan kita di dunia ini adalah proses keterlemparan. Manusia tidak pernah tahu dan mengerti mengapa ia ada/hadir di sini di tempat ini. Mereka kemudian tak henti-hentinya memikirkan mau kemana manusia sesudah kehidupan ini?. Dan apa yang harus mereka lakukan dalam hidup ini.

Berbeda dengan mereka, para ulama Islam dan kaum muslimin dengan tegas menjawab: Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji’un”. (Kita ini miliki dan diciptakan Allah dan kita akan kembali kepada-Nya). “Wa Ilaihi Yurja’u al-Amru Kulluh” (Dan kepada-Nyalah segalanya akan kembali). Lalu Allah menyuruh kita menjalani hidup ini sebaik-baiknya dan kelak, ketika kembali di hadapan Allah, kita akan dimintai pertanggungjawaban secara sendiri-sendiri atas segala yang kita kerjakan selama hidup di dunia. Allah berfirman dalam al-Qur’an.

وقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S. al-Taubah, [9]:105).

Di tempat lain Allah mengatakan:


Sesungguhnya, telinga, mata dan hati,masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya”.


Hidup menurut Nabi adalah bagaikan sebuah perjalanan dan setiap orang bagaikan pengembara di belantara raya kehidupan. Ibnu Mas’ud Seorang sahabat Nabi menceritakan kepada kita :  
قال ابن مسعود رضي الله عنه : اِضْطَجَعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى حَصِيْرٍ ، فَأَثَّرَ فِي جَنْبِهِ ، فَلَمَّا اِسْتَيْقَظَ ؛جَعَلْتُ أَمْسَحُ جَنْبَهُ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ الله ! أَلَا آذَنْتَنَا حَتَّى نَبْسُطَ لَكَ عَلَى الْحَصِيْرِ شَيْئاً ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا لِي وَلِلدُّنْياَ ؟! مَا أَنَا وَالدُّنْياَ ؟! إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَرَاكَبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا .

“Nabi tidur di atas tikar. Ketika bangun, tampak di tubuhnya bekas cetakan tikar. Aku mengatakan: “Wahai Nabi, bolehkah kami ambilkan kasur untukmu?”. Nabi menjawab : “Apalah artinya aku dan kehidupan di dunia ini.  Di sini aku hanyalah bagaikan pengembara yang bernaung untuk istirahat sementara di bawah pohon. Sesudah itu berangkat lagi dan meninggalkan tempat itu.

Sebuah syair mengatakan :

هَبِ الدُّنْيَا تُسَاقُ اِلَيْكَ عَفْواً    أَلَيْسَ مَصِيْرُ ذَاكَ اِلَى زَوَالِ
وَمَا دُنْيَاكَ إِلَّا مِثْلُ  ظِلٍّ     أَظَلَّكَ ثُمَّ آذَنَ بِارْتِحَالِ

Silakan, kau katakan dunia memberimu anugerah.
Tetapi bukankah pada akhirnya ia akan sirna
Dunia bagai payung
Ia menanungimu sesaat saja
Lalu mengizinkanmu berangkat

Pertanyaan penting kita adalah jalan manakah yang paling baik untuk kita tempuh menuju Allah?. Para ulama dan para bijakbestari (hukama) mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya banyak jalan menuju kepada-Nya. Tetapi jalan yang terbaik, termudah dan tercepat yang dapat mengantarkan kepada tempat persinggahan terakhir kita, kembali kepada Tuhan, tempat kita berasal, dengan nyaman adalah memberikan pelayanan yang baik dan membagikan kegembiraan kepada manusia serta meniadakan penderitaan mereka. Sufi besar Abu Sa’id Ibn Abi al-Khair (w. 1049) ketika dia ditanya santrinya  “Ma ‘Adad al-Thariq Min al-Khalq Ila al-Haqq” (berapa banyakkah jalan manusia menuju Tuhan?), dia menjawab:
فَقَالَ فِى رِوَايَةٍ أَكْثَرُ مِنْ أَلْفِ طَرِيْقٍ. وَقَالَ فِى رِوَايَةٍ أُخْرَى : الطَّرِيْقُ اِلَى الْحَقِّ بِعَدَدِ ذَرَّاتِ الْمَوْجُودَاتِ. وَلَكِنْ لَيْسَ هُنَاكَ طَرِيْقٌ أَقْرَبُ وَاَفْضَلُ وَأَسْرَعُ مِنَ اْلعَمَلِ عَلَى رَاحَةِ شَخْصٍ وَقَدْ سِرْتُ فِى هَذَاالطَّرِيْقِ. وَإِنَّنِى أُوصِى الْجَمِيْعَ بِهِ
Ada lebih dari seribu jalan, di tempat lain ia mengatakan jalan itu sebanyak partikel yang ada di alam semesta ini, tetapi jalan yang terpendek, terbaik dan tercepat menuju Dia adalah memberi kenyamanan kepada orang lain. Aku menempuh jalan ini dan aku selalu memesankan ini kepada semua orang”. (Asrar al-Tauhid fi Maqaamaat Abi Sa’id, h. 327-327).

Jawaban Syeikh Abu Sa’id ini tampaknya diinspirasi oleh pernyataan Nabi ketika ditanya siapakah muslim itu?, beliau menjawab : “Al-Muslimu Man Salima al-Muslimun min Lisanihi wa Yadihi”(Seorang muslim adalah dia yang kehadirannya membuat orang lain merasa nyaman, tidak terganggu oleh kata-kata yang melukai dan tindakannya yang menyakitkan).

Pada suatu kesempatan bersama Malaikat Jibril, Nabi mengagumi suatu tempat yang dilihatnya dan bertanya kepada Jibril :

رَأَيْتُ قُصُورًا مُشْرِفَةً عَلَى الْجَنَّةِ . فَقُلْتُ لِجِبْرِيل : لِمَن هَذِه ؟ قَالَ : ِللْكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ

“Wahai Jibril, aku tadi melihat istana di sorga. Untuk siapakah gerangan tempat itu?”, tanya Nabi. Jibril menjawab : ”Ia disiapkan untuk siapa saja yang berhasil mengendalikan marah dan yang suka memaafkan”.

Maka, Sufi besar lain, Imam al-Ghazali kemudian menulis dalam bukunya “Al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk” :

لَا تَحْتَقِرْ اِنْتِظَارَ اَرْبَابِ الْحَوَائِجِ وَوُقُوفَهُمْ بِبَابِكَ. وَمَتَى كَانَ لِاَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ اِلَيْكَ حَاجَةٌ فَلَا تَشْتَغِلْ عَنْ قَضَائِهَا بِنَوَافِلِ اْلعِبَادَاتِ فَإِنَّ قَضَاءَ حَوَائِجِ الْمُسْلِمِينَ اَفْضَلُ مِنْ نَوَافِلِ اْلعِبَادَاتِ  (التبر المسبوك ص 31)

Tak sepatutnya engkau merendahkan (menghina) orang yang menunggu di depan rumahmu untuk meminta pertolonganmu. Jika seseorang meminta bantuanmu, tidaklah patut engkau menyibukkan diri dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah (tambahan). Memenuhi kebutuhan seseorang yang menderita lebih utama daripada mengerjakan ibadah sunnah.(Imam al-Ghazali).                        

Tindakan, sikap dan perbuatan yang baik di atas betapapun beratnya, sesungguhnya tidaklah akan sia-sia, tidak akan hilang, melainkan akan berguna bagi dirinya. Para bijakbestari mengingatkan kita :

إن تعِبْتَ في البِرِّ، فَإِنَّ الْبِرَّ يَبْقَى وَالتَّعَبَ يَزُوْلُ، وَإِنِ الْتَذَذْتَ بِالآثامِ، فَإنَّ الَّلذَةَ تَزُوْلُ وَالْآثَامُ تَبْقَى
Jika engkau merasa lelah akibat kerja-kerja baikmu seharian, maka kebaikan itu akan langgeng dan lelah itu akan hilang. Jika engkau merasakan kenikmatan dengan kerja-kerja berdosamu, maka kenikmatan itu akan hilang dan dosa-dosa itu tetap langgeng”.

Allah berfirman :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ} [الزلزلة: 7، 8

“Siapa saja yang berbuat baik sekecil apapun, ia kelak akan melihatnya, dan siapa yang berbuat buruk sekecil apapun ia juga kelak akan melihatnya”.

Di samping bekerja dan berbuat baik dengan sungguh-sungguh, manusia juga dianjurkan untuk terus berdoa atau meminta kepada Allah. Karena segala keberhasilan kerja-kerja manusia tergantung kepada izin dan ditentukan oleh keputusan-Nya. Apabila do’a-do’a kita belum terkabul, maka janganlah putus harapan. Yakinlah bahwa Allah pasti akan mengabulkannya. Ibnu Athaillah al-Sakandari, seorang bijakbestari besar mengatakan :

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ اَمَدِ اْلعَطَآءِ مَعَ اْلِالْحَاحِ فِى الدُّعَآءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ. فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ اْلاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ. وَفِى اْلوْقْتِ الَّذِى يُرِيْدُ لَا فِى اْلوَقْتِ الَّذِى تُرِيْد

“Seyogyanya, tertundanya pemberian sesudah engkau mengulang-ulang permintaan kepada Tuhan, tidak membuatmu patah hati atau putus asa. Dia menjamin pengabulan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilih bukan yang kamu pilih, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau kehendaki”.

Meski demikian para ulama dan hukama mengatakan bahwa semua ucapan dan perbuatan baik kita hendaknya sungguh-sungguh keluar dari hati yang bersih dan tulus hanya karena Allah semata, tidak karena kepentingan-kepentingan yang lain. Hanya dengan cara itu, Allah akan menerimanya. Al-Qur’an menyatakan :

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنٌ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“di suatu hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Q.S. al-Syu’ara, [26]:88-89).

Ditempat lain Al-Qur’an bahwa kepulangan kita kepada Allah akan sendiri-sendiri,tanpa teman maupun kekasih. mengatkan :

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (Q.S.Maryam,[19]:95).